Tampilkan postingan dengan label science. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label science. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Januari 2018

Endospora Bacillus sp.


Endospora adalah sel bakteri yang telah mengalami diferensiasi menjadi lebih tahan terhadap panas, zat kimia berbahaya, radiasi dan keadaan lain yang dapat membunuh sel bakteri biasa. Endospora sendiri berasal dari kata endo yang berarti di dalam dan spore yang berarti spora. Hal ini disebabkan oleh kenampakan endospora bakteri yang terlihat berada di dalam dinding sel pada pengamatan yang dilakukan menggunakan mikroskop (Anonim, 2017)
Gambar 1. Proses sporulasi pada bakteri penghasil Endospora (Sumber: ASM Digital Collection, Markel)

Kamis, 18 Juni 2015

ISEF 2015 "Islamic Science and Technology Fair"


Coming Soon..!!! 

Jama'ah Intelektual Mahasiswa Muslim (JIMM) Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga​ Proudly Present ISEF 2015 "Islamic Science and Technology Fair". Untuk tingkat SMA/MA sederajat se-Jawa Bali ada lomba CCI (Cerdas Cermat Islam), LKTA, dan lomba Da'i. Ada pula untuk tingkat umum se-Jawa Timur yaitu lomba banjari yang akan diselenggarakan atas kerjasama antara Seni Banjari Universitas Airlangga (SeRban UNAIR​) dan Grup Sholawat Al-Banjari Ulul Albab JIMM Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga​. Terakhir nanti juga akan ada tabligh akbar yang akan diisi oleh pembicara yang top deh.. Jangan sampai terlewat teman-teman...!!!

Kamis, 07 Mei 2015

Manfaat Rumput Laut Bagi Tubuh Manusia

Rumput Laut
Rumput Laut sering kita melihat di pinggir-pinggir jalan, di restoran dan di keramaian orang yang menjajakan makanan atau minuman yang satu ini. Bagi anda pencinta rumput laut tentu akan senang bila kami membahas tema kali tentang tanaman tersebut. Makanan atau minuman rumput laut sebagian komposisinya berbahan dasar utama yaitu rumput laut itu sendiri. Namun tahukah anda apa manfaat rumput laut itu sendiri bagi tubuh anda?

Sabtu, 11 April 2015

Klasifikasi Bakteri



Berdasarkan morfologinya bakteri dapat dibedakan atas tiga bagian yaitu (Fardiaz, 1992) :
1.    Bentuk silindris (batang), dibedakan atas:
a)    Basil tunggal, berupa batang tunggal.
b)   Diplobasil, berbentuk batang bergandeng dua.
c)    Streptobasil, berupa batang bergandeng seperti rantai.
2.    Bentuk bulat (coccus), dibedakan atas:
a)    Monokokus, bentuk bulat satu-satu.
b)   Diplokokus, bentuk bulat bergandeng dua.
c)    Streptokokus, bentuk bulat bergandeng seperti rantai.

Minggu, 05 April 2015

Hidrokarbon Alisiklik



Gambar 1. Rantai Hidrokarbon Alisiklik

Hidrokarbon adalah golongan senyawa karbon yang paling sederhana. Hidrokarbon hanya terdiri dari unsur karbon (C) dan hidrogen (H). Walaupun hanya terdiri dari 2 jenis unsur, hidrokarbon merupakan suatu kelompok senyawa yang besar.

Kamis, 26 Februari 2015

Bagian-Bagian Daun (Daun Tunggal)

Daun tunggal adalah daun yang setiap tangkainya hanya menopang satu helai daun saja. Struktur daun lengkap meliputi: upih daun (vagina), tangkai (petiolus), dan helaian (lamina). Namun daun lengkap seperti itu jarang untuk kita temui, kadang ada yang kehilangan satu bagian atau dua bagian. Daun yang demikian dinamakan daun tidak lengkap.

Rabu, 11 Februari 2015

Mikrobiologi: Bakteri Halofilik



Salah satu jenis bakteri halofilik (pengamatan makroskopis)
Bakteri halofilik merupakan salah satu kelompok mikroorganisme yang dapat hidup di lingkungan berkadar garam tinggi (Ventosa dan Nieto, 1995). Lingkungan berkadar garam tinggi antara lain danau air asin (Great Salt, Lakes,Utah), kolam penguapan di ladang pemanenan garam dari air laut, tanah atau gurun berkadar garam tinggi, bahkan makanan yang diawetkan dengan penggaraman, contohnya ikan asin, keju, ikan sarden, hering dan ikan cod (Ledernberg, 1992). Kadar garam dilingkungan bakteri halofilik tersebut berkisar antara 2% hingga 30% (Ford, 1993) sedangkan pertumbuhan optimalnya di kadar garam 3%hingga 15% (Coronado et al.,1999).

Kamis, 09 Januari 2014

Cuaca Ekstrem di AS, Air Terjun Niagara Membeku


Ahmad Fauzi Blog - Air Terjun Niagara tampak membisu. Air tak lagi sepenuhnya mengalir deras ke permukaan sungai. Pesona wisata dunia itu berubah menjadi es, membeku untuk sementara.


Musim dingin membuat Niagara berhenti mengucur, tapi bukan berarti kecantikannya memudar. Pemandangan yang luar biasa ini merupakan momentum penting bagi para wisatawan. Mereka mengabadikan kejadian yang begitu langka. 

Lihat foto-fotonya di tautan ini.

Penampakan UFO di Atas Markas Klub Jerman

Ahmad Fauzi Blog - Otoritas keamanan Jerman mengatakan, pihaknya tengah menginvestigasi penampakan yang diduga UFO (Unidentified Flying Object) pada Selasa 7 Januari 2014. UFO tersebut dilaporkan terbang rendah di atas markas Werder Bremen, Weserstadion.

Otoritas tersebut memperkirakan UFO itu terbang hanya 300 meter di atas Kota Bremen, Jerman. Pesawat yang seringkali dikait-kaitkan dengan keberadaan makhluk ruang angkasa itu tampak terbang cukup lama, hingga akhirnya menghilang.

Seorang jurnalis Jerman yang tak disebutkan namanya sempat merekam UFO yang terbang di atas Werserstadion. Video berdurasi 6 menit 9 detik itu memperlihatkan sebuah benda bercahaya terang yang terbang melayang di atas kota. Benda itu sempat menghilang, kemudian terlihat lagi, lalu kembali lenyap.

Menurut kepolisian setempat, UFO itu mampir ke langit Kota Bremen setidaknya selama tiga jam. Radar bandara setempat juga sempat menangkap gerakan sebuah pesawat tak dikenal, tapi gerakan pesawat itu kemudian menghilang.

“Kami tidak tahu apa itu, tapi yang jelas memang ada sesuatu,” ungkap juru bicara kepolisian Bremen, seperti dilansir 101greatgoals, Kamis 9 Januari 2014.

Beruntung, ketika disambangi UFO, Weserstadion sedang tidak dipakai untuk pertandingan Werder Bremen. Saat ini, kompetisi Bundesliga tengah menjalani libur musim dingin. Bundesliga baru akan kembali dilanjutkan pada 26 Januari 2014, dan Bremen akan menjamu Eintracht Braunschweiger di Weserstadion.

Mau lihat berita menarik lainnya, klik di sini

Kamis, 18 Agustus 2011

VIDEO: Badai Matahari Terjang Bumi

Untuk kali pertamanya, pesawat ruang angkasa yang jauh dari Bumi, STEREO-A, menjadi saksi saat terjadinya badai Matahari melanda planet Bumi. Sebuah video yang dirilis NASA telah membuat para fisikawan tercengang. Lihat videonya di sini.

"Video ini membuat saya merinding," kata Craig DeForest, ilmuwan dari Southwest Researcher Institute di Boulder, Colorado. "Ini menunjukkan pembengkakan CME (coronal mass ejection) menjadi dinding plasma besar kemudian menerjang sebuah titik biru. Titik tersebut adalah Bumi, tempat tinggal kita. Saya merasa kecil, tak berarti," tambah dia.

CME adalah ledakan besar yang melontarkan miliaran ton awan plasma korona. Ketika menyapu Bumi, ia dapat menyebabkan aurora, badai radiasi, dan dalam kasus yang ekstrem adalah terputusnya jaringan listrik dan mematikan sistem satelit. Melacak awan ini dan prediksi kedatangannya adalah bagian penting terkait cuaca luar angkasa.

"Kami pernah melihat CME sebelumnya, namun tak pernah seperti ini," kata Lika Guhathakurta, ilmuwan misi STEREO di kantor pusat NASA. "STEREO-A telah memberi kita pandangan baru tentang badai matahari."
STEREO-A adalah satu dari dua pesawat luar angkasa yang diluncurkan pada 2006 untuk mengobservasi aktivitas Matahari. Saat badai itu terjadi, STEREO-A berjarak lebih dari 65 juta mil dari Bumi.

CME pertama yang meninggalkan Matahari terlihat terang dan mudah dilihat. Namun, visibilitasnya secara cepat menurun saat awan plasma berekspansi ke ruang hampa udara. Saat melintasi orbit Venus, cahayanya jutaan kali lebih pucat dari bulan purnama, dan ribuan kali lebih pucar dari Bima Sakti. CME yang mencapai Bumi hampir sama tipis dengan ruang hampa, nyaris transparan.

"Membedakan CME dengan cahaya bintang atau debu angkasa selama ini menjadi tantangan besar," kata Craig DeForest.
Butuh tiga tahun, sejak 2008, bagi tim ilmuwan untuk belajar mengenali CME. Kabar baiknya, kini teknik tersebut telah disempurnakan. Ini sangat penting artinya dalam prediksi cuaca ruang angkasa. Dengan mengkalkulasi kecepatan CME, kita bisa mengestimasi kapan ia akan mencapai Bumi.

"Di masa lalu, prediksi terbaik kami soal kedatangan CME, penuh ketidakpastian, plus atau minus 4 jam," kata Alysha Reinard dari Space Weather Prediction Center NOAA. "Video ini secara signifikan akan mengurangi tingkat kesalahan. (sumber: NASA)

Rabu, 20 Juli 2011

Bakteri Jahat di Dalam Oral B

Produsen Protector and Gamble menarik obat kumur 'Oral-B Tooth and Gum Care Mouth Rinse' serta 'Oral-B Tooth and Gum Care Alcohol-Free Mouth Rinse' dari pasar Indonesia setelah terdeteksi adanya kandungan bakteri Burkholderia anthina.
Selain di Indonesia, produk ini juga ditarik peredarannya di beberapa negara, termasuk Kanada, Meksiko, Chili, Kolombia, Cina, Malaysia dan Filipina. Obat kumur bermasalah ini diproduksi di Kolombia.

Apakah bahaya bakteri Burkholderia anthina terhadap kesehatan?

Dalam rilisnya, Otoritas Kesehatan Singapura menyebutkan, orang sehat yang menggunakan obat kumur Oral B tidak perlu terlalu khawatir. Tetapi, bagi yang mengalami masalah kesehatan atau imunitas rendah, seperti penyakit paru-paru kronis, lebih rentan terhadap infeksi bakteri ini.  Disarankan agar segera memeriksakan diri ke dokter.

Burkholderia anthina adalah anggota Burkholderia cepacia complex (B. cepacia complex). Bakteri ini termasuk kelompok bakteri gram negatif dan berada di berbagai lingkungan berbeda.

Bakteri dapat ditemukan di dalam air, tanah dan lingkungan lembab lainnya. sama seperti Proteobacteria lain, seperti Escherichia, Salmonella, Vibrio, Helicobacter,  Burkholderia anthina adalah patogen yang bertanggung jawab untuk fiksasi nitrogen.

Sebuah penelitian menyebut, Burkholderia cepacia menyebabkan fibrosis dan menjadi ancaman di berbagai rumah sakit di Amerika Serikat. Sebab, B. cepacia secara inheren tahan terhadap antibiotik ganda, baik antibiotik alami maupun buatan.

Riset yang dilakukan Holmes, Govan dan Goldstein mengungkap, strain B. cepacia muncul secara acak, sehingga penggunaan herbisida pada lahan pertanian harus dilakukan secara hati-hati. (umi)

Minggu, 17 Juli 2011

Gunung Lokon Meletus Dahsyat, Warga Panik

Gunung Lokon di Tomohon, Sulawesi Utara kembali meletus pada pukul 10.34 Wita, Minggu 17 Juli 2011. Gunung yang beberapa minggu belakangan itu kembali menyemburkan material panas. Bahkan, dalam letusan siang ini, ketinggian semburan material pijar itu mencapai 3.500 meter dari mulut kawah.

Peristiwa itu membuat warga di dekat gunung ini menjadi panik. Mereka berhamburan keluar rumah, berlari menuju tempat pengungsian. Saat ini, zona bahaya ditetapkan 3,5 km dari kawasan Lokon.

Sebenarnya, aparat setempat telah mengimbau warga sekitar untuk mengungsi. Namun, sebagian warga yang khawatir terhadap keamanan harta benda, memilih pulang ke rumah masing-masig untuk menjaganya.

Akibat letusan itu, sekitar 5.000 orang lebih mengungsi ke tempat yang lebih aman. Diperkirakan, aktivitas Lokon masih tinggi karena energi yang tersimpan diduga masih besar. Sewaktu-waktu Lokon bisa kembali meletus dan memuntahkan material pijar.

Langit Beri Pertanda Bencana Tsunami?

Musibah gempa 9,0 skala Richter dan tsunami yang menerjang Jepang Jumat, 11 Maret 2011, menjadi inspirasi para ilmuwan untuk menemukan sistem peringatan dini bencana yang lebih akurat.
Salah satu isu besar adalah benarkah langit memberikan pertanda sebelum malapetaka datang?

Seperti dimuat Daily Mail, para ilmuwan dari University of Illinois menangkap pertanda atmosfer terkait tsunami Jepang berupa pijaran udara (airglow) yang ditangkap sebuah observatorium di Pulau Hawaii.
Gambaran tersebut ditemukan pada ketinggian 250 kilometer di atas permukaan Bumi, sekitar satu jam sebelum gelombang raksasa menghantam perairan Jepang.  Pijaran udara adalah lapisan kehijauan yang ditemukan saat kombinasi molekul dipisahkan oleh cahaya matahari.

Penemuan, yang dilaporkan dalam jurnal Geophysical Research Letters, juga menegaskan teori yang dikembangkan pada tahun 1970-an. Studi-studi ini menunjukkan bahwa tsunami bisa diobservasi dari bagian atas atmosfer, namun sampai saat ini baru bisa didemonstrasikan menggunakan sinyal radio.

Studi ini fokus pada fakta bahwa tsunami menghasilkan gelombang gravitasi atmosfer saat ombak melaju melintasi lautan.

Gelombang-gelombang tsunami memiliki potensi untuk meregang beberapa kilometer ke langit dan menyebabkan perubahan yang dapat dicitrakan karena penurunan densitas udara. Lihat videonya di sini.

Tim University of Illinois dipimpin oleh Jonathan Makela, seorang profesor teknik listrik dan komputer, membuat gambaran tersebut.  Setelah itu, Makela, bersama mahasiswa pascasarjana Thomas Gehrels, bergabung dengan tim di Prancis dan Brasil di New York University untuk melakukan analisis rinci gambaran tersebut.

Mereka menemukan sifat gelombang cocok dengan yang yang terpantul dari tsunami Jepang. Profesor Makela yakin, sistem kamera dapat dikembangkan untuk menciptakan sebuah sistem peringatan dini.

Saat ini, untuk peringatan dini para ilmuwan menggunakan semacam pelampung di laut dan model untuk melacak dan memprediksi tsunami. Sistem yang rapuh karena alat pamantau tersebut bisa hilang dicuri.

Padahal, sistem kamera bisa melacak langit secara keseluruhan dengan mengamati perubahan di atmosfer. Para ilmuwan menyarankan sistem tersebut dipasang ke satelit untuk mengatasi permasalahan di sistem yang berbasis di darat.

Makela menambahkan untuk menciptakan sistem yang handal, ilmuwan perlu mengembangkan algoritma untuk menganalisis dan menyaring data secara real time. "Ini adalah pengingat tentang bagaimana lingkungan kita saling berhubungan satu sama lain," kata Makela.

"Teknik ini menyediakan alat baru yang kuat untuk mempelajari rangkaian laut dan atmosfer. Juga bagaimana tsunami merambat di laut terbuka."

Sebelumnya, masih mengenai pertanda gempa di atmosfer, profesor ilmu bumi daru Chapman University di California, Dimitar Ouzounov, mengatakan bahwa ada keanehan di langit Jepang sebelum tsunami. Atmosfer di atas episentrum gempa Jepang mengalami perubahan tak biasa dalam beberapa hari menjelang bencana.

Senin, 27 Juni 2011

Prediksi BMKG: Agustus Jadi Puncak Kemarau

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi, puncak musim kemarau tahun ini terjadi pada pertengahan Agustus mendatang. BMKG menyatakan, suhu udara yang terjadi saat ini masih dalam kondisi normal yakni, 32-34 derajat celcius.

"Jadi sebaiknya penggunaan air lebih hemat dan aktivitas bakar-membakar dikurangi," ujar Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara BMKG, Edvin Aldrian.

Menurut Edvin, suhu udara belakangan ini dirasakan warga Jakarta terasa lebih panas. Tidak ada perbedaan suhu yang besar antara satu wilayah dengan lainnya. Seperti di Jakarta Selatan dan Jakarta Utara. Sebab, semua mendapat cahaya matahari yang sama.

Hanya saja, kata dia, perbedaannya terletak pada faktor non iklim karena kawasan Jakarta Selatan lebih banyak memiliki pepohonan yang membuat daerah itu menjadi lebih sejuk.
Edvin mengungkapkan, dampak awal musim kemarau Jakarta adalah polutan yang terkungkung di lapisan udara bawah atau ketinggian yang kurang dari 1 kilometer pada sore hari. "Polutan yang berasal dari asap kendaraan, asap pabrik, dan debu itu tidak tercuci karena tak ada hujan," tambahnya.

Kepala Bidang Informasi BMKG, Harry Tirto Djatmiko menjelaskan, dalam satu minggu ke depan wilayah DKI Jakarta masih berpeluang diguyur hujan ringan dengan intensitas 0,1-5,0 milimeter per jam atau 5-20 milimeter per hari.
Sementara hujan sedang berpotensi terjadi di wilayah Jakarta bagian selatan pada sore dan malam hari dengan intensitas 5,0-10,0 milimeter per jam atau 20-50 milimeter per hari.

"Potensi hujan terjadi karena adanya daerah tekanan rendah di Samudera Hindia sebelah Barat Sumatera serta pumpunan angin yang memanjang dari Sumatera bagian utara hingga Laut Cina Selatan," kata Edvin.

Penumpukan massa udara terjadi di wilayah Sumatera bagian utara dan selatan, Kalimantan bagian barat dan utara, Sulawesi bagian tengah, Maluku bagian tengah, Papua Barat serta Papua bagian utara dan tengah. "Itu memberi dampak pada kemungkinan terjadinya hujan di wilayah Jakarta dan sekitarnya," terang dia. (ren)

Jumat, 17 Juni 2011

Dinosaurus Selamat dari Pemusnahan Massal


Peneliti dari University of Alberta memastikan bahwa fosil tulang dinosaurus yang ditemukan di New Mexico, Amerika Serikat, membantah paradigma yang sudah terbangun sejak lama bahwa era dinosaurus berakhir antara 65,5 sampai 66 juta tahun lalu.

Menggunakan teknik baru yakni penghitungan usia fosil berbasis uranium, tim peneliti yang diketuai Larry Heaman dari Department of Earth and Atmospheric Sciences, memastikan bahwa tulang paha dari seekor hadrosaurus berusia hanya 64,8 juta tahun.

Artinya, dinosaurus pemakan tanaman ini hidup sekitar 700 ribu tahun setelah fenomena pemusnahan massal yang diyakini oleh banyak paleontologis sebagai kejadian yang memusnahkan dinosaurus darat dari seluruh permukaan Bumi selama-lamanya.

“Sebelum ini diyakini bahwa pemusnahan massal dinosaurus terjadi antara 65,5 sampai 66 juta tahun lalu,” kata Heaman, seperti dikutip dari Science Daily, Jumat 17 Juni 2011. “Diyakini, sebuah meteor raksasa yang menghantam Bumi melontarkan material yang memblokir sinar Matahari. Hal itu menyebabkan perubahan iklim secara ekstrim dan membunuh tanaman di seluruh dunia,” ucapnya.

Dalam laporan yang dipublikasikan di jurnal Geology, Heaman dan timnya menyebutkan, ada beberapa alasan yang memungkinkan hadrosaurus asal New Mexico itu berhasil bertahan dari fenomena pemusnahan massal yang terjadi di akhir era Cretaceous itu.

“Ada kemungkinan bahwa di kawasan tertentu, tanaman tidak musnah dan sejumlah hadrosaurus berhasil bertahan dengan mengonsumsi tanaman tersebut,” ucap Heaman.

Untuk itu, Heaman menyebutkan, saat ini terbuka pula peluang bahwa sebuah telur dinosaurus berhasil selamat dari kondisi iklim ekstrim. Namun demikian, itu masih harus terus dieksplorasi lebih lanjut.

Dengan temuan terbaru ini, Heaman dan timnya yakin bahwa jika teknik pengukuran baru itu digunakan untuk mengukur usia sampel fosil lain, paradigma pemusnahan massal yang mengakhiri hidup seluruh dinosaurus boleh jadi perlu direvisi.

Ditemukan, Sistem Planet Aneh yang Mematikan

Dua orang astronom di Afrika Selatan telah menemukan bukti akan adanya dua planet raksasa yang mengorbit sistem bintang kembar. Temuan tersebut dilaporkan di South African Astronomical Observatory (SAAO).

Menurut SAAO, sistem tata surya dengan dua planet dan dua ‘matahari’ yang ditemukan oleh Stephen Potter dan Encarni Romero-Colmenero tersebut merupakan contoh dari sebuah sistem planet yang ‘sangat aneh’.

“Dua buah bintang, satu merupakan white dwarf dan yang lain merupakan red dwarf, berada sangat dekat sehingga mereka hanya membutuhkan waktu beberapa jam saja untuk saling mengorbi satu sama lain,” sebut kedua astronom, seperti dikutip dari News24, 17 Juni 2011.

Sistem planet itu, kedua astronom menyebutkan, berorientasi dengan cara yang sangat aneh, sehingga dari Bumi, sepasang bintang itu saling menimbulkan gerhana setiap kali mengorbit, jika dilihat dari Bumi.

Potter dan rekan-rekannya mendapati pula bahwa gerhana tersebut tidak terjadi dalam waktu-waktu tertentu. Kadang gerhana datang terlalu cepat atau terlalu lambat.

Temuan ini membuat mereka berhipotesa bahwa hadirnya dua planet raksasa itu memberi efek gravitasi yang akan menyebabkan bintang tersebut mengorbit dengan tidak beraturan. Planet-planet itu juga akan sedikit mempengaruhi jeda antara dua gerhana tersebut.

Dari pengukuran, astronom berhasil membuat perkiraan bahwa massa kedua planet itu setidaknya enam dan delapan kali massa planet Jupiter. Kedua planet juga membutuhkan waktu 16 dan 5 tahun untuk mengorbiti kedua bintang yang jadi ‘mataharinya’ tersebut. Namun sayangnya, planet-planet itu berada di jarak yang sangat jauh untuk dapat difoto secara langsung.

Selain itu, sistem planet binary star yang diberi nama UZ For itu juga merupakan sistem planet yang sangat tidak ramah untuk ditinggali.

“Karena kedekatannya, gravitasi milik bintang white dwarf secara konstan terus mencuri material dari permukaan bintang red dwarf,” kata astronom. “Aliran material ini akan menghantam bintang white dwarf dan membuatnya menjadi sangat panas hingga ke suhu jutaan derajat,” sebutnya.

Akibatnya, astronom menyebutkan, bintang itu akan membanjiri sistem planet tersebut dengan radiasi sinar X dengan jumlah yang sangat banyak dan mematikan.

Sistem planet aneh itu sendiri dapat ditemukan setelah astronom mengobservasi menggunakan Southern African Large Telescope (SALT) baru milik SAAO yang mampu mengombinasikan data yang dikumpulkan oleh banyak observatorium dan satelit dalam jangka waktu 27 tahun.

Rabu, 15 Juni 2011

2012, Aktivitas Matahari Mulai Turun

Selama bertahun-tahun terakhir, ilmuwan memperkirakan bahwa Matahari akan mencapai solar maximum atau periode di mana lidah api dan bintik matahari akan mencapai aktivitas puncaknya di tahun 2012 mendatang. Namun belakangan, sejumlah kalangan memprediksi sebaliknya.

Dari tiga penelitian yang baru-baru ini dipublikasikan, para pakar yakin bahwa siklus bintik matahari akan berkurang dan menuju ke masa nonaktif pertama sejak abad ke-17 lalu.

Menurut pakar dari National Solar Observatory (NSO) dan Air Force Research Laboratory, tanda-tanda yang sudah tampak adalah hilangnya aliran semburan api, bintik-bintik yang memudar, dan penurunan aktivitas di kawasan kutub Matahari.

“Ini merupakan temuan yang sangat tidak lazim dan tidak diduga-duga,” kata Frank Hill, Associate Director Solar Synoptic Network NSO, seperti dikutip dari News24, 16 Juni 2011.

Namun demikian, Hill menyebutkan, faktanya, ada 3 penelitian menggunakan pendekatan yang sangat berbeda terhadap Matahari, menyimpulkan satu hal yang sama. “Ini merupakan indikasi yang sangat kuat bahwa siklus bintik Matahari akan menuju ke hibernasi,” ucapnya.

Seperti diketahui, aktivitas Matahari cenderung naik turun setiap sekitar 11 tahun. Solar maximum dan solar minimum yang masing-masing menandai perbalikan kutub mangnet Matahari terjadi setiap 22 tahun.

Para pakar kini menganalisa apakah periode non aktif ini merupakan Maunder Minimum, yakni periode di mana Matahari jarang memunculkan bintiknya dan bisa berlangsung selama 70 tahun. Sebelum ini, Maunder Minimum pernah terjadi pada tahun 1645 sampai 1715 lalu.

“Jika perkiraan kami benar, ini mungkin akan menjadi solar maximum terakhir yang akan kita lihat dalam beberapa dekade ke depan,” kata Hill. “Itu akan mempengaruhi berbagai hal, mulai dari penjelajahan angkasa luar sampai ke perubahan iklim di Bumi,” ucapnya.

Hasil temuan ketiga penelitian yang berbeda itu sendiri diumumkan pada pertemuan tahunan Solar Physics Division dari American Astronomical Society di New Mexico, Amerika Serikat.

Pesona Spektakuler Gerhana Bulan Total

Kejadian menarik di langit terjadi pada Kamis 16 Juni 2011 dini hari tadi: gerhana bulan total. Fenomena ini bisa disaksikan di seluruh Indonesia. Di Jakarta misalnya, langit yang cerah membuat gerhana bulan terlihat jelas, dengan mata telanjang.

Gerhana yang terjadi dini hari tadi termasuk istimewa. Yang terlama di tahun ini. Sebelumnya, profesor riset bidang astronomi dan astrofisika dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, Thomas Djamaluddin mengatakan, total durasi gerhana, dari mulai gerhana bulan sebagian awal sampai akhir, diperkirakan berlangsung selama 3 jam 20 menit, yakni dari pukul 01.22 WIB - 05.02 WIB.

Durasi itu, Djamal menambahkan, lebih panjang dari gerhana bulan total yang juga akan terjadi pada 10 Desember 2011 mendatang.

Selain bisa menikmati fenomena alam menarik, gerhana bulan adalah kesempatan untuk mengetahui kualitas lapisan atmosfer bagian atas (lapisan stratosfer yang berada di ketinggian di atas 5.000 meter dari permukaan bumi) yang mungkin selama ini 'dicemari' oleh akumulasi debu-debu vulkanik.

Pasalnya, debu-debu vulkanik yang sampai di lapisan atmosfer bagian atas, bisa bertahan hingga bertahun-tahun. Contohnya, letusan Gunung Pinatubo yang terjadi pada 1991 dan memakan ratusan korban jiwa, debu vulkaniknya bertahan hingga dua tahun.

Menurut Djamal, kualitas atmosfer itu bisa diukur dengan melihat kecerahan warna garis antara bayangan bumi dengan cahaya bulan. Bila warna cahaya bulan terlihat cerah dan tegas, maka kualitas atmosfer lebih baik. Tapi bila warnanya lebih gelap, maka kualitas atmosfer lebih buruk.

Djamal memisalkan, setelah letusan Gunung Tambora pada 1815 yang menewaskan sekitar 100 ribu jiwa, atmosfer lapisan bumi saat itu tertutup debu vulkanik sampai beberapa waktu sehingga saat gerhana bulan, garis antara bayangan bumi dengan cahaya bulan berwarna gelap dan baur.

Tak hanya Indonesia, sejumlah negara pun bisa menikmati pemandangan menakjubkan ini. Di beberapa negara, bulan akan terlihat berwarna merah darah.

Selasa, 19 April 2011

Misteri 'Medan Magnet' Banyumas Terjawab

Ilmuwan membantah adanya fenomena medan magnet raksasa di Banyumas, Jawa Tengah. Peristiwa bergeraknya kendaraan seperti ditarik ke arah atas sebuah 'tanjakan' di jalan kecil itu bukan karena magnet, melainkan ilusi gravitasi.

"Ini hanya ilusi optik atau ilusi gravitasi," kata pakar geologi dari Universitas Soedirman Purwokerto, Muhammad Azis, dalam perbincangan dengan VIVAnews.com, Selasa 19 April 2011.

Azis saat ini masih berada di lokasi yang menghebohkan warga itu, di Desa Limpakus, Kecamatan Sumbang. Lokasi yang menghebohkan ini adalah sebuah jalan kecil yang bersanding dengan wilayah lembah atau jurang kecil.

Bila disusur dari arah utara ke selatan, secara kasat mata jalan kecil ini terlihat seperti sebuah tanjakan di arah selatan. Nah, saat mobil atau motor yang tidak dinyalakan mesinnya berdiri di atas lokasi itu, keduanya bergerak ke arah puncak tanjakan. Seperti ditarik oleh sesuatu.

Azis melakukan dua percobaan sederhana di lokasi itu. Pertama, percobaan mendasar yakni dengan menggunakan alat bantu arah mata angin, kompas. Kompas yang digunakan di lokasi itu tidak terganggu sama sekali.

Menurut Azis, bila di lokasi itu ada medan magnet raksasa, maka jarum pada kompas akan bergerak kacau tidak beraturan. "Tapi ini tidak, kompasnya normal," kata Azis. Dengan kompas ini sebenarnya sudah cukup bukti bahwa di lokasi itu tidak ada medan magnet.

Azis mencoba melakukan percobaan sederhana kedua. Dia melempar botol air mineral plastik ke arah utara. Botol itu ternyata jatuh ke arah selatan. "Ini artinya, di lokasi itu sebenarnya bukan tanjakan, tapi turunan," kata pria yang juga pakar Petrologi Mineralisasi ini.

Ternyata, lokasi yang terlihat seperti tanjakan itu sebenarnya adalah turunan. Azis pun meneliti kemiringan di lokasi itu. "Benar, di situ adalah turunan dengan kemiringan atau elevasi 2 derajat," ujar dia. Kemiringan 2 derajat itu berada sepanjang sekitar 18 sampai 20 meter. Fenomena ilusi gravitasi atau ilusi optik ini juga terjadi di Gunung Kelud, Jawa Timur.

Meski demikian, Azis mengakui batuan di lokasi itu memang memiliki sifat magnetik. "Permukaan batuan di sini memang terdiri dari lava andesit. Itu memiliki sifat magnetik," ujar pria lulusan pascasarjana Institut Teknologi Bandung ini. Lihat VIDEO: 'Medan Magnet' di Banyumas.

Rabu, 30 Maret 2011

Radioaktif Jepang Bisa Sampai Indonesia?

Masyarakat Indonesia tidak perlu khawatir akan adanya radiasi nuklir Jepang. Pasalnya arah angin tidak berhembus ke arah Indonesia melainkan ke arah timur Jepang.

"Kecil kemungkinannya Indonesia terkena radiasi dari Jepang karena angin tidak mengarah kepada kita," kata Kepala Sub Bidang Peringatan Dini Cuaca Ekstrem BMKG, Kukuh Ribudiyanto, saat dihubungi VIVAnews.com, Selasa 29 Maret 2011 malam.

Indonesia yang berada di sebelah selatan Jepang dan berjarak lebih dari 4.000 km tidak akan terkena radiasi tersebut karena pada bulan ini angin berhembus ke arah timur. Sedangkan pada bulan April, angin akan berhembus dari Australia melalui Indonesia ke arah China.

Kukuh pun menegaskan bahwa posisi Indonesia yang membelakangi Jepang membuat Indonesia aman dari radiasi. Masyarakat dihimbau untuk tidak lagi khawatir dengan dampak radiasi nuklir Jepang yang menyebar ke beberapa negara.

Seperti yang telah diketahui terdapat tiga negara tetangga Jepang yang terkena radiasi yakni Filipina, China dan Korea Selatan. Hal ini dideteksi dari adanya partikel-partikel nuklir di udara.

Rating for my blog